UMROH JANUARI 2017 AMAN DAN HEMAT

UMROH JANUARI 2017 AMAN DAN HEMAT

biaya umroh 2017

Wahai saudaraku yang hendak berangkat menuju Baitullah
Jika setiap kafilah ada seorang pemimpinnya, dan setiap perjalanan ada petunjuk jalannya,
Maka pemimpin kafilah orang-orang yang melakukan haji adalah Muhammad SAW. Sedang penunjuknya adalah sunnahnya. Beliau bersabda "ambilah manasik haji kalian dariku"

TATA CARA PELAKSANAAN UMROH

Berikut urutan pelaksanaan umroh sesuai sunnah yang di ajarkan Rasulullah SAW. :

1. Jika seseorang akan melaksanakan umroh, dianjurkan untuk mempersiapkan dirinya sebelum melakukan ihram dengan mandi sebagaimana seseorang yang mandi junub, memakai wangian (untuk laki-laki) yang terbaik dan memakai pakaian ihram.

2. Pakaian ihrom untuk laki-laki adalah dua lembar kain ihrom yang berfungsi sebagai sarung & penutup pundak. Sedangkan untuk wanita, cukup memakai pakaian yang telah disyari’atkan yang menutupi seluruh tubuhnya. Tetapi tidak dibenarkan memakai cadar/ niqab (penutup wajah) dan tidak diperbolehkan memakai sarung tangan.

3. Berihram dari miqot dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ عُمْرَةً
“labbaik ‘umroh” (aku memenuhi panggilanMu untuk menunaikan ibadah umroh).

4. Jika jamaah khawatir tidak dapat menyelesaikan umroh disebabkan sakit atau adanya penghalang lain, maka dibolehkan mengucapkan persyaratan setelah mengucapkan kalimat di atas dengan lafaz,
اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي
“Allahumma mahilli haitsu habastani” (Ya Allah, tempat tahallul di mana saja Engkau menahanku).
Dengan mengucapkan persyaratan ini, baik dalam umroh maupun saat haji, jika seseorang terhalang untuk menyempurnakan manasiknya, maka ia diperbolehkan bertahallalul dan tidak wajib membayar dam/denda (menyembelih seekor kambing).

5. Tidak ada peralatan/piranti khusus untuk berihrom, namun jika bertepatan dengan waktu sholat wajib, maka sholatlah terlebih dulu lalu berihrom setelah shalat.

6. Setelah mengucapkan “talbiah umroh” (pada poin no.3), dilanjutkan dengan melafazkan dan memperbanyak talbiah berikut ini, sambil mengeraskan suara bagi laki-laki dan lirih bagi perempuan hingga tiba di Makkah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku menjawab panggilanMu ya Alloh, aku menjawab panggilanMu, aku menjawab panggilanMu, tiada sekutu bagiMu,  aku menjawab panggilanMu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milikMu, tiada sekutu bagiMu).

7. Jika memungkinkan, seseorang dianjurkan untuk mandi sebelum masuk kota Makkah.

8. Ketika masuk Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid:
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatMu).

9. Menuju Hajar Aswad, dan menghadap ke arahnya sambil membaca “Allohu akbar” atau “Bismillah Allohu akbar” lalu mengusapnya dengan tangan kanan & menciumnya. Jika tidak memungkinkan untuk mencium hajar aswad, maka cukup dengan mengusapnya, lalu mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat kepadanya dengan tangan, namun tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Hal ini dilakukan pada setiap putaran thawaf.

10. Kemudian, memulai thawaf umroh 7 putaran, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad pula. Dan disunnahkan jamaah berlari-lari kecil pada 3 putaran pertama dan berjalan biasa pada 4 putaran terakhir.

11. Disunnahkan juga mengusap rukun yamani pada tiap putaran thawaf. Namun tidak dianjurkan mencium rukun yamani. Dan jika tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka tidak perlu memberikan isyarat dengan tangan.

12. Pada saat berada di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, disunnahkan membaca,
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka). (QS. Al Baqarah: 201)

13. Tidak ada dzikir atau bacaan tertentu pada waktu thawaf, selain yang disebutkan pada no. 12. Dan seseorang yang melakukan thawaf boleh membaca Al Qur’an atau do’a dan dzikir apa saja yang mereka kehendaki.

14. Setelah selesai thawaf, menutup kedua pundaknya, lalu menuju ke makam Nabi Ibrahim sambil membaca,
وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
“Wattakhidzu mim maqoomi ibroohiima musholla” (Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat) (QS. Al Baqarah: 125).

15. Shalat sunnah thawaf 2 raka’at di belakang Maqam Ibrahim, pada rakaat pertama setelah membaca surat Al Fatihah, membaca surat Al Kaafirun dan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah, membaca surat Al Ikhlas.

16. Setelah sholat disunnahkan minum air zam-zam dan menyirami kepala dengannya.

17. Kembali ke Hajar Aswad, bertakbir, lalu mengusap atau/dan menciumnya jika hal itu memungkinkan atau mengusapnya atau memberi isyarat kepadanya.

SA’I UMRAH

18. Kemudian, kita menuju ke Bukit Shafa untuk melaksanakan sa’i umroh dan jika telah mendekati Shafa, membaca,
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Innash shafaa wal marwata min sya’airillah”  (Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah) (QS. Al Baqarah: 158).
Lalu mengucapan,
نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ
“Nabda-u bimaa bada-allah bih”.

19. Naik ke bukit Shafa, lalu menghadap ke arah Ka’bah hingga melihatnya—jika hal ini memungkinkan—, kemudian membaca:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  (3x)
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. (3x)
Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.”[4]

20. Bacaan ini diulang sebanyak tiga kali dan berdoalah di antara pengulangan-pengulangan itu dengan do’a apa saja yang dikehendaki.

21. Kemudian turun dari Shafa dan berjalan menuju ke Marwah.

22. Disunnahkan berlari-lari kecil dengan cepat dan secara bersungguh-sungguh di antara dua tanda lampu hijau yang beada di Mas’a (tempat sa’i) bagi laki-laki, lalu berjalan biasa menuju Marwah dan menaikinya.

23. Setibanya di Marwah, kerjakanlah apa-apa yang dikerjakan di Shafa, yaitu menghadap kiblat, bertakbir, membaca dzikir pada no. 19 dan berdo’a dengan do’a apa saja yang dikehendaki, perjalanan (dari Shafa ke Marwah) dihitung satu putaran.

24. Kemudian turunlah, lalu menuju ke Shafa dengan berjalan di tempat yang ditentukan untuk berjalan dan berlari bagi laki-laki di tempat yang ditentukan untuk berlari, lalu naik ke Shafa dan lakukan seperti di awal, dengan demikian terhitung dua putaran.

25. Lakukanlah hal ini sampai tujuh kali dengan berakhir di Marwah.

26. Ketika sa’i, tidak ada dzikir-dzikir tertentu, maka boleh berdzikir, berdo’a, atau membaca bacaan-bacaan yang dikehendaki/disukai

27. Jika membaca do’a ini:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
“Allahummaghfirli warham wa antal a’azzul akrom” (Ya Rabbku, ampuni dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa dan Maha Pemurah), tidaklah mengapa  karena telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya mereka membacanya ketika sa’i.

28. Setelah selesai sa’i, dilanjutkan dengan bertahallul dengan memendekkan seluruh rambut kepala atau mencukur gundul, dan yang mencukur gundul itulah yang lebih afdhal. Adapun bagi wanita, cukup dengan memotong rambutnya sepanjang satu ruas jari.

29. Setelah memotong atau mencukur rambut, maka berakhirlah rangkaian ibadah umroh dan Anda telah dibolehkan untuk mengerjakan hal-hal yang tadinya dilarang ketika dalam keadaan ihram.

Demikianlah ringkasan amalan umroh yang merupakan faedah dari Buku “Petunjuk Praktis Manasik Haji dan Umrah”, penulis Abu Abdillah, terbitan Darul Falah.